apa kabar wahai diriku?

meniti jalan menapaki jejak keinsyafan membuang kealpaan

AGAR PUTIH TAK ABU-ABU

”Islam itu bersih, maka bersihkanlah dirimu. Sesungguhnya, tidak akan masuk surga kecuali orang yang bersih.” (HR Dailami)

Maha Agung Allah swt. yang telah menunjukkan hambaNya tentang warna-warni hidup. HidayahNya menguatkan sinar fitrah manusia yang putih untuk tetap putih. Dan yang sebelumnya hitam menjadi kembali putih dan bersih. Putih menunjukkan kebersihan. Dan hitam memperlihatkan kekotoran. Keduanya tidak akan menyatu. Seperti itulah sunnatullah buat semesta alam.

Baca selebihnya »

April 12, 2008 Posted by | taujih ustadzy | 1 Komentar

elang

Seekor anak elang begitu serius menatapi suasana kehidupan dari atas bukit. Pandangannya yang tajam terus mengikuti hamper setiap gerak yang muncul. Ular yang merayap dari bebatuan satu ke batuan yang lain. Kelinci yang melompat ari rerumputan satu ke rerumputan yang lain. Ikan-ikan yang melongok-longok mengusik kejernihan bayangan permukaan air. Dan lain-lain.

Satu hal yang membingungkan anak elang: semua gerakan itu nampak begitu lamban. Bagaikan kombinasi beberapa titik yang bergerak lambat.”Kenapa mereka begitu lambat?” gumamnya.

Ia pun mengangguk-angguk ketika elang dewasa memangsa hewan-heawan di bawah bukit itu dengan mudahnya.”Tentu saja kena. Mereka begitu lamban!” gerutu anak elang.

“Kamu tidak turun memangsa, nak?” teriak salah satu elang dewasa di dekatnya. ”Aku belum belum mahir terbang.” Jawab si anak elang tak peduli. Ia masih di sibukkan dengan berbagai keheranan: mengapa hewan-hewan dibawah sana begitu lambat?

Di suatu hari yang cerah, si anak elang akhirnya memaksakan diri belajar terbang. Ia mulai melenturkan kedua sayapnya yang belum terpakai kecuali hanya untuk berlari-lari di sekitar sarang.”Ah, aku yakin bias!” ucapnya dalam hati. Bongkahan batu besar, menjulangnya pohon-pohon pinus, menambah tantangan tersendiri buat sianak elang. Dan, ia pun mulai terbang.

Di luar dugaan, angina bertiup dengan kencangnya, si anak elang pun terpelanting. Ia menabrak salah satu dahan pohon pinus. Tubuh anak elang itu pun terperosok ke semak-semak. Salh satu sayapnya patah.

Baru kali ini si anak elang itu menginjakkan kakinya di “dunia bawah”, dan baru kali ini ia menyaksikan sendiri apa gerak kehidupan “dunia bawah” dari dekat. “Ah, ternyata aku salah selama ini. Ternyata, hewan-hewan itu begitu cepat geraknya.” Ucapnya lirih.

***

Ada kesenjangan lain dalam dunia kehidupan. Antara, dunia atas dan dunia bawah. Antara mereka yang terbiasa manatap gerak dari tempat tinggi, dengan yang melakoni gerak kehidupan dari dunia bawah. Kedua-duanya punya kesimpulan sama: GERAKAN MEREKA BEGITU LAMBAT!

Persoalannya mungkin sederhana, mereka terlalu asyik berada di tempat tertentu, atas atau bawah, menjadikan pandangan mereka terbatas. Jarak jika terus dalam jauh, dan keasyikkan jika terus dalam dunianya sendiri. Akan menyuburkan kesenjangan ini.

Semoga kita tidak seperti yang di alami anak elang, yang baru memahami kesenjangan ketika keadaan memaksanya turun dari tempat atas.

April 12, 2008 Posted by | Tak Berkategori | Tinggalkan sebuah Komentar

merapat dengan orang “bawahan”

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash –semoga Allah meridoinya- dia mengatakan, “Kami (berkumpul) berenam bersama Rasulullah saw., maka berkatalah orang-orang musyrik kepada beliau, ‘Usirlah mereka agar mereka tidak berani-berani kepada kami.’ Dan aku saat itu bersama Ibnu Mas’ud, dua orang dari (kabilah) Hudzail, Bilal, dan dua orang lagi tidak kuhafal namanya. Maka terjadilah pada hati Rasulullah apa yang Allah kehendaki terjadi (yakni hampir terpengaruh untuk mengikuti keinginan orang kafir itu, pen.) lalu ia berbicara pada dirinya. Maka Allah swt. menurunkan: ‘Dan janganlah kalian mengusir orang-orang yang menyeru Tuhan mereka di pagi dan petang hari dengan mengharapkan wajah Allah’ (Al-An’am 52).” (Hadits Shahih riwayat Muslim)

Hadits di atas mengarahkan kita agar menjadikan nilai-nilai ilahiyyah sebagai standar untuk menentukan pilihan: apakah kita mendekat atau mengambil jarak dengan seseorang atau suatu komunitas. Nilai-nilai material duniawi sama sekali tidak boleh menjadi parameter dalam hal itu. Dan untuk itulah Rasulullah saw. diingatkan oleh Allah swt.

Baca selebihnya »

April 12, 2008 Posted by | Tak Berkategori, taujih | Tinggalkan sebuah Komentar

   

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.