apa kabar wahai diriku?

meniti jalan menapaki jejak keinsyafan membuang kealpaan

koalisi keluarga

Potret keluarga kadang mirip dengan tanah di kawasan pegunungan. Nyaris, tak ada tanah yang di sana yang rata sempurna. Kalau tidak miring ke kiri, tanah menanjak ke kanan. Kalau pun tampak rata, beberapa bagiannya menonjol karena bebatuan yang tertanam. An tonjolan pada tanah keluarga adalah adanya perbedaan rasa.

Tiap orang ingin mempunyai keluarga yang sempurna. Ada suami, istri, anak-anak, tempat tinggal, dan kesejahteraan lahir dan batin. Tapi, tidak semua yang diinginkan bisa muncul dalam kehidupan nyata. Ada saja kekurangannya.

Di antara kekurangan itu, ada suami, ada istri, ada anak-anak, ta[I tak ada tempat tinggal alias pondok mertua indah atau kontraktor. Ada juga bentuk lain: ada tempat tinggal, ada kemapannan ekonomi, ada suami, ada istri, tapi belum jjuga di karuniai anak. Keadaan terakhirlah yang kini dirasakan Pak Yanto.

Sebelas belas tahun sudah, suami yang juga aktivis partai tersebut mengarungi bahtera rumah tangga. Selama itu, ia dan istri tercintanya seperti dalam kapal yang besar tanpa penumpang. Sepi. Di ruang tamu bertemu istri, di dapur bertemu istri, di ruang makan bertemu istri, di kamar beremu istri. Dimana-mana di seluruh ruangan rumahnya yang ia jumpai selalu istri. Bosan?

“sama sekali tidak,” itulah jawab Pak YAnto ketika seorang temannya mencari kepastian.”pernikahan saya dengan istri sangat bersejarah. Benar-benar pengalaman hidup yang tak bisa terlupakan.” Tambah Pak YAntomengungkapkan isi hatinya.

Persoalanya Cuma satu: bagaimana supaya bisa punya anak? Itu saja. Lain tidak. Pak Yanto sudah sangat bersyukur kepada ALLAh telah memberikan istri yang solehah, penuh perhatian, dan juga seorang aktivis. Sedikit pun tidakterbesit dalam diri Pak YAnto untuk melupakan kebaikkan istrinya.

Itulah kenapa ia tidak pernah putus asa konsultasi ke dokter. Segala cara terapi medis dan non medis sudah Pak YAnto coba.tapi, hasilnya masih belum menggembirakan. Ia dan istri masih tetap kesepian.

Hingga suatu hari, istri Pak YAnto mengajak bicara serius. Pak Yanto bingung. Ada apa gerangan? “Mas, ad yang ingin saya tanyakan,” ucap istri Pak YAnto memecah keheningan. Pak YAnto menagkap sesuatu yang lain dari wajah istrinya. “Tanya apa?insaya Allah, kalau bisa, akan Mas jawab,” jawab Pak YAnto tenang. Dan ia pun membalas senyum istrinya.

Tak ada suara apa pun. Agak lama Pak YAnto menunggu. Sepertinya, ada hal penting hingga butuh perenungan yang cuup lama.”Mas…,” ucap istri Pak YAntokemudain. Pak Yanto kian menyimak.” MAs siap untuk berkoalisi?” Tanya sang istri ambil menatap wajahsuaminya. “Koalisi?” ucap Pak Yanto agak heran. “Iya. Koalisi antar dua keluarga, dan Mas lah yang jadi pemimpinnya,” tambah istri Pak Yanto gamblang.

Pak Yanto terdiam, ia menatap lekat istrinya. Ia seperti ingin memastikan kalau yang di ucapkan istrinya bukan gurauan. Tapi, akhirnya memang itu bukan gurauan. Itu sebuah pertannyaan serius.

Memang, beberapa minggu lalu, Pak Yanto pernah dengar kalau ada seorang akhwat beranak tiga yang perlu pertolongan. Pasalnya, suaminya sudah lama meninggal, sementara anaknya masih kecil-kecil. Dan, urusan ekonomi akhwat itu mulai kusut. Padahal, ia ergolong aktivis muslimah yang baik.

Saat itu, Pak Yanto seperti ditarik ke sebuah ruangan yang sebelumnya ia jauhi. Ia berusaha keras untuk tidak menyentuh masalah itu. Pak Yanto khawatir kalau kenangan manis masa lalu yang bersejarah itu akan sirna begitu saja.

Istrinya memang penuh pengertian, tapi tidak berarti ia tidak punya perasaan. Bukankah tiap wanita punya rasa. Ada cemburu di ditu. Ada rasa ingin memiliki, dan khawatir kalau yang di milikinya akan pergi menjadi milik orang lain. Ah, Pak Yanto jadi sangat brat dengan tawaran istrinya tentang koalisi.

Akhirnya, Pak Yanto tidak memberikan jawaban apa pun. Ia tinggalkan istrinya yang masih dikepung tanda Tanya. “Mas mau ke kamar mandi. Wudhu!” ucap Pak Yanto sambil melangkah menuju kamar mandi. Ia seperti tergerak unutk sholat.

Sepanjang hari, setelah pertanyaan istrinya itu, Pak Yanto jadi tidak konsen. Pikirannya terbelah. Ia tak habis piker. Kenapa istrinya bisamengajukan pertanyaan sedahsyat itu. Ia ingat betul saat-saat awal membina rumah tangga yang penuh perjuangan itu. Dan saat itu, Pak Yanto bisa menangkap seperti apa kedalaman rasa istrinya. Hatinya begitu hlus. Peka. Jangankan teguran, sindiran halus pun bisa membuat istrinya menangis.

Hal itu mungkin wajar. Karena dalam keluarga, istri Pak Yanto tergolong anak bungsu. Sejak kecil, istrinya tumbuh tanpa pran ibu. Ibu mertua Pak Yanto sudah meninggal dunia saat istrinya masih SD. Sementara ayahnya sering ke luar kota. Hanya kedua kakaknya yang kerap mengayominya.

Melihat situasi itu, Pak Yanto sadar sekali kalau ia ibarat muara cinta sang istri yang lama tertambat. Itulah yang ia alami hidup bersama istrinyahingga sebelas tahun. Lalu, apa benar istri Pak Yanto sudah begitu berubah. Ia terus terang, masih sangat ragu.

Sore itu begitu sejuk ketika Pak Yanto dan istri duduk di beranda rumah.”Mas, aku ingin bicara lagi soal koalisi,” ucap sang istri mengalihkan suasana. Pak Yanto deg-degan. Hingga seminggu itu,ia memang belum punya jawaban. “Anu, Mas. Setelah piker-pikir panjang. Kayaknya aku belum siap untuk berkoalisi,” tambahnya kemudian.” Maksud kamu?” Tanya Pak Yanto tambah bingung.

“Aku khawatir, Mas. Aku khawatir, suatu saat, koalisinya berubah jadi oposisi!” suara istri Pak Yanto sambil menunduk.

:) :) :)

April 22, 2008 - Posted by | keluarga

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.