apa kabar wahai diriku?

meniti jalan menapaki jejak keinsyafan membuang kealpaan

TUK PARA PEMIMPIN

Di sebuah sarang yang sejuk dan nyaman, seekor anak lebah madu tampak termenung. Ia seperti tak bergairah. Sesekali, lebah cilik calon ratu ini merebahkan dirinya di sebuah kursi panjang. Beberapa saat kemudian, ia pun kembali duduk. Sorot matanya begitu layu.

“Kamu tampak lemas anakku! Sudah makan?” ucap ratu sambil melangkah lambat menuju sang anak. Ia pun membelai-belai tubuh putrinya yang nyaris tak bereaksi sedikit pun.

“Bosan, Bu!” jawab si kecil singkat. Tatapannya masih tertuju pada ukiran-ukiran dinding yang membentuk lambing kerajaan.

“Boasn? Kamu sakit?” Tanya sang ratu lebih prihatin. “Tidak, Bu!” ungkap si kecil lagi-lagi singkat. “Lalu?’ balas ratu disertai tatapan tajam ke wwajah putrinya tercinta.

“Bu, aku bosan dengan suasana ini. Aku ingin busana yang lebih bagus lagi, makanan yang lebih enak lagi dan beragam. Aku ingin dayang-dayang yang siap diperintah! Aku ingin lebih di layani!” ungkap si lebah kecil sambil membalas tatapan ibunya. “Kenapa ibu tidak memberiku teman di ruang ini, kecuali perabot sederhana dan beberapa jendela di hamper semua dinding?” tambah si lebah kecil lebih bersemangat.

“Apa kamu sudah membuka jendela-jendela itu, Nak?” Tanya sang ratu sambil mencoba terus membelai. “Buat apa?” sanggah si lebah kecil menunjukkan ketidak puasan.

Ratu lebah itu pun kembali berdiri. Tangannya meraih lengan kecil anaknya. Lebah ratu itu menggiring putrinya menuju jendela. Perlahan, ia membuka satu per satu jendela-jendela di ruang itu. Bias-bias sinar pun menerobos mengisi seluruh runagan. Beberapa gelombang suara dari luar jendela berlomba menangkap telinga mereka berdua. Ada suara tawa lebah, teriakkan, bahkan tangis yang sayup-sayup mermbat masuk ke ruang itu. Si anak lebah tampak bingung dengan tingkah yang di buat ibunya.

“Perhatikanlah dunia di balik jendela-jendela ini, anakku. Lihatlah kehidupan seperti apa adanya. Disana ada tawa, tangis, teriakkan, ketidakpuasan; wajah-wajah bahagia, duka, gelisah,” suara sang ratu lebah begitu memikat nalar sang anak. Si lebah kecil pun mulai tertarik dengan pemanangan di balik jendela.

“Anakku. Tak lama lagi kamu akan menggantikan ibu. Simaklah kegelisahan mereka. Penuhilah rasa tidak cukupmu dengan berlatih memberi. Ibu yakin, kamu akan selalu merasa puas!” ucap sang ratu begitu memukau hati dan nalar sang anak.

***

Ada banyak jendela di sekeliling kita. Laporan media massa, obrolan para tetangga, pemandangan di jalan dan kendaraan umum, kritikan para bawahan; adalah di antara sederet jendela yang melekat pada dinding rumah kita. Tapi, semua terserah kita: apakah jendela-jendela itu kita buka untuk di simak, atau di biarkan saja tertutup.

Ketika suasana ruang yang ditempati sejuk dan nyaman, kecenderungan untuk membuka jendela lebar-lebar mungkin kecil ada nalar dangkal di situ: membuka jendela berarti membiarkan gangguan masuk, membuka jendela berarti mengurangi privacy, bahkan membuka jendela berarti menurunkan wibawa diri.

Menarik apa yang di ucapkan ratu lebah kepada anaknya,”Jangan malas untuk membuka jendela. Simak ketidak nyamanan penghuni lain dari situ. Pahami, dan seraplah sebagai energi baru. Agar, kesejukkan dan kenyamanan rumah kita bisa dirasakan oleh orang-orang di sekitar kita.”

April 22, 2008 - Posted by | Tak Berkategori

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.