Kecerdasan Sosial (Al-Handasah Al-Ijtima’iyyah)
abi abdullah
Dakwah kita adalah sebuah perubahan ke arah perbaikan, namun hendaklah kita mengetahui bahwa perbaikan tidak akan bisa terwujud jika kita bersikap eksklusif dan menutup diri. Tak bisa disangkal, kita memang harus berinteraksi dan bergaul dengan orang lain.
merapat dengan orang “bawahan”
Dari Sa’ad bin Abi Waqqash –semoga Allah meridoinya- dia mengatakan, “Kami (berkumpul) berenam bersama Rasulullah saw., maka berkatalah orang-orang musyrik kepada beliau, ‘Usirlah mereka agar mereka tidak berani-berani kepada kami.’ Dan aku saat itu bersama Ibnu Mas’ud, dua orang dari (kabilah) Hudzail, Bilal, dan dua orang lagi tidak kuhafal namanya. Maka terjadilah pada hati Rasulullah apa yang Allah kehendaki terjadi (yakni hampir terpengaruh untuk mengikuti keinginan orang kafir itu, pen.) lalu ia berbicara pada dirinya. Maka Allah swt. menurunkan: ‘Dan janganlah kalian mengusir orang-orang yang menyeru Tuhan mereka di pagi dan petang hari dengan mengharapkan wajah Allah’ (Al-An’am 52).” (Hadits Shahih riwayat Muslim)
Hadits di atas mengarahkan kita agar menjadikan nilai-nilai ilahiyyah sebagai standar untuk menentukan pilihan: apakah kita mendekat atau mengambil jarak dengan seseorang atau suatu komunitas. Nilai-nilai material duniawi sama sekali tidak boleh menjadi parameter dalam hal itu. Dan untuk itulah Rasulullah saw. diingatkan oleh Allah swt.
SURAU TUA
Di suatu hari, di sebuah tempat yang nun jauh di sana, sebuah negeri anta baranta, tampak seorang pemuda bergegas menuju sebuah surau tua. Sebuah gubuk kecil nan asri, tinggal seorang kakek tua renta yang mengajar ngaji anak anak di desa itu. Pemuda itu tergesa gesa menuju surau itu, dengan wajah yang penuh dengan kegelisahan, ia menyapa kakek tua itu, “ Assalamu’alaikum wahai ustadz”. Kakek itu pun spontan memberhentikan aktivitasnya, dan menjawab salam pemuda tersebut,”Wa’alaikumussalam wahai anakku,silahkan masuk!”. Silahkan duduk wahai anakku”. Dengan senyuman ia menyambut pemuda tadi. Ia pun duduk bersila bersama pemuda itu di teras surau tersebut.
“Ada apa, wahai anakku?” Tanya sang kakek dengan lembut pada pemuda tersebut. “Ustadz, saya diterima kerja di kota!” ungkap pemuda tersebut.”Syukur Alhamdulillah” timpal sang kakek. “ustadz,kalau tidak keberatan,berikan aku nasehat sebagai bekalku di kota nanti” harap pemuda tersebut pada sang kakek.
“Anakku, jadilah engkau seprti air dan jangan kau ikuti jejak awan,” untaian kalimat singkat meluncur tenang dari mulut sang kakek. Pemuda itu terdiam, tak bereaksi, memikirkan kata kata dari sang kakek. Ia berfikir keras memikirkan makna kata kata sang kakek. Tapi tak berhasil, “Maksud ustadz?” ucap pemuda tersebut kemudian.
“Anakku, air mengajarkan kita untuk senantiasa merendah. Walau ia berasal dari tempat yang tinggi, ia selalu ingin ke bawah. Semakin besar, semakin banyak jumlahnya, air kian bersemangat untuk bergerak kebawah. Ia selalu mencari celah untuk bias mengaliri dunia yang ada di bawahnya.” Jelas sang kakek tenang. ‘Lalu dengan awan ustadz?” Tanya sang pemuda penasaran.
“jangan sekali kali seperti awan, anakku. Perhatikanlah!. Awan berasal dari tempat yang rendah, tapi ingin cepat berada di tempat yang tinggi. Semakin ringan, semakin ia tidak berbobot. Awan semakin ingin cepat tinggi. Ketinggian awan Cuma jadi bahan permainan angina.” Dan pemuda itu pun tampak mengangguk pelan.
***
Seribu satu harap keerap dialamatkan pada para pemimpin negeri ini. Mereka yang berharap adalah kaum lemah yang butuh perlindungan, kaum miskin yang menginginkan bantuan,dan masyarakat awam yang butuh bimbingan.
RAngkaian harap itu berujung pada satu titik; agar mutu baik para pemimpin negeri ini, tidak hanya berhenti pada dirinya sendiri. Tapi, bias mengalir pada masyarak yang ada di bawahnya. Membasahi cekungan harap masyarakat yang kian mongering, menghidupkan benih benih hijau yang belum menguning.
Namun, tak semua mutu pemimpin negeri ini selalu seperti air yang mengalir dan terus mengalir menumbuhkan kehidupan di bawahnya. Karena boleh jadi, justru sebaliknya, seperti awan yang kian menjauh meninggalkan bumi. Seolah ada yang mereka ingin ucapkan: selamat tinggal dunia bawaqh; maaf, kami sedang asyik bercengkrama dengan angin.
APA KABAR MU, WAHAI DIRIKU?
APA KABAR MU, WAHAI DIRIKU?
Perjalanan hidup ini amatlah panjang, bahkan sangat panjang. Ia membutuhkan jeda sesaat untuk memastikan, apakah ada yang harus diperbaiki, diluruskan, atau di ubah total. Agar seorang manusia tidak tertipu dan tersesat jalan, sehingga akan terhambat kesselamatannya untuk sampai tujuan, nun jauh di sana.
-
Arsip
- April 2008 (25)
- Maret 2008 (2)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS